Sabtu, 19 Januari 2013

Dari Sekolah Pinggiran, Enzim Cleaner pun Tercipta



*Karya Guru dan Siswa MIM  Karangasem

Oleh: Akhmad Saefudin

LAGI-lagi, tak ada jaminan bahwa kreativitas melulu identik dengan sekolah mapan atau bahkan unggulan. Apa yang dihasilkan siswa dan guru Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Karangasem, Batang, menjadi buktinya. Di tengah kesan pinggiran dan terbelakang, sekolah dengan jumlah total siswa hanya 59 ini mampu mengkreasi enzim cleaner.

Enzim ini pun tercipta tidak melalui kegiatan praktikum. Justru ide pembuatannya muncul dari permasalahan. Berawal dari keluhan seorang siswanya, yang enggan masuk ke toilet sekolahnya sendiri, karena alasan bau tak sedap. Gayung bersambut, keluhan itu pun ditanggapi serius oleh salah seorang gurunya, Heri. “Semestinya, kamar mandi memang tak boleh bau, agar penggunanya nyaman,” pikirnya saat itu.

Tak cukup di situ, akhirnya masalah siswa itu mendorong Heri dan siswa untuk berupaya mencarikan solusinya secara ilmiah. Atas saran seorang wali murid, berbagai referensi terkait pun dicari, sampai menemukan cara untuk membuat enzim cleaner, sebuah formula biologis tak hidup yang dibuat dari sel-sel hidup, yang mampu mengurai dan menyatukan molekul. “Menjadi istimewa lantaran enzim cleaner yang kami buat steril dari bahan sabun ataupun cairan kimia. Pembuatan enzim ini menjadi semacam riset kecil-kecilan yang dilakukan guru dan murid. Hasilnya, enzim ini mampu mengusir bau di toilet,” terang Heri.

 Menariknya lagi, ternyata enzim cleaner tersebut  dibuat dari bahan yang tergolong sampah, yakni kulit jeruk. Itupun tidak didapat dengan membeli jeruk, tetapi cukup memanfaatkan jeruk afkir yang dibuang oleh kios buah. Tanpa malu, pak guru dan murid tersebut mengorek-orek tempat penampungan sampah di kios buah untuk mendapatkan jeruk afkir. “Kami bisa berbangga, bahwa di tengah kesan sebagai sekolah kampong, kreativitas dan inovasi keilmuan itu tetap hidup. Kini MI Muhammadiyah Karangasem bisa bermanfaat, baik bagi sekolah sendiri atau mungkin masyarakat lain,” ucapnya.

 “Biasanya pembuatan enzim ini cukup dengan botol air mineral bekas, namun kami modifikasi sedemikian rupa agar proses fermentasi berjalan baik namun tidak merepotkan”, sambung Heri.

Saat ini, taka da lagi kata enggan untuk ke kamar mandi. Bahkan, siswa yang sebelumnya mengeluh dengan bau toilet, kini dengan antusias bertugas menyemprot kamar mandi dengan enzim di setiap jam pulang sekolah. “Bahan ini efektif disemprot saat kamar mandi tidak terpakai lagi, sehingga enzim cleaner tidak larut oleh siraman air. Dengan cara ini diharapkan enzim bekerja maksimal,” jelas Hery.

Apa yang dilakukan siswa dan guru MIM ini seolah mewarisi semangat berkreativitas dan berinovasi yang diajarkan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Meski awalnya dicaci, Kyai Dahlan tetap menerapkan inovasinya dalam dunia pendidikan dan berhasil lestari sampai kini. “Sebelum ini, kami pun telah mengadopsi cara cepat menghapal bagi siswa, melalui sistem hanifida, sebagaimana pernah dilansir Radar beberapa waktu lalu,” pungkasnya. (*)