Oleh: Akhmad Saefudin
LAGI-lagi, tak ada jaminan bahwa
kreativitas melulu identik dengan sekolah mapan atau bahkan unggulan. Apa yang
dihasilkan siswa dan guru Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) Karangasem,
Batang, menjadi buktinya. Di tengah kesan pinggiran dan terbelakang, sekolah
dengan jumlah total siswa hanya 59 ini mampu mengkreasi enzim cleaner.
Enzim ini pun tercipta tidak melalui
kegiatan praktikum. Justru ide pembuatannya muncul dari permasalahan. Berawal
dari keluhan seorang siswanya, yang enggan masuk ke toilet sekolahnya sendiri,
karena alasan bau tak sedap. Gayung bersambut, keluhan itu pun ditanggapi
serius oleh salah seorang gurunya, Heri. “Semestinya, kamar mandi memang tak
boleh bau, agar penggunanya nyaman,” pikirnya saat itu.
Tak cukup di situ, akhirnya masalah
siswa itu mendorong Heri dan siswa untuk berupaya mencarikan solusinya secara
ilmiah. Atas saran seorang wali murid, berbagai referensi terkait pun dicari,
sampai menemukan cara untuk membuat enzim cleaner, sebuah formula biologis tak
hidup yang dibuat dari sel-sel hidup, yang mampu mengurai dan menyatukan
molekul. “Menjadi istimewa lantaran enzim cleaner yang kami buat steril dari
bahan sabun ataupun cairan kimia. Pembuatan enzim ini menjadi semacam riset
kecil-kecilan yang dilakukan guru dan murid. Hasilnya, enzim ini mampu mengusir
bau di toilet,” terang Heri.
Menariknya lagi, ternyata enzim cleaner tersebut
dibuat dari bahan yang tergolong sampah,
yakni kulit jeruk. Itupun tidak didapat dengan membeli jeruk, tetapi cukup
memanfaatkan jeruk afkir yang dibuang oleh kios buah. Tanpa malu, pak guru dan
murid tersebut mengorek-orek tempat penampungan sampah di kios buah untuk
mendapatkan jeruk afkir. “Kami bisa berbangga, bahwa di tengah kesan sebagai
sekolah kampong, kreativitas dan inovasi keilmuan itu tetap hidup. Kini MI
Muhammadiyah Karangasem bisa bermanfaat, baik bagi sekolah sendiri atau mungkin
masyarakat lain,” ucapnya.
“Biasanya
pembuatan enzim ini cukup dengan botol air mineral bekas, namun kami modifikasi
sedemikian rupa agar proses fermentasi berjalan baik namun tidak merepotkan”, sambung
Heri.
Saat ini, taka da lagi kata enggan untuk
ke kamar mandi. Bahkan, siswa yang sebelumnya mengeluh dengan bau toilet, kini
dengan antusias bertugas menyemprot kamar mandi dengan enzim di setiap jam
pulang sekolah. “Bahan ini efektif disemprot saat kamar mandi tidak terpakai
lagi, sehingga enzim cleaner tidak larut oleh siraman air. Dengan cara ini diharapkan
enzim bekerja maksimal,” jelas Hery.
Apa yang dilakukan siswa dan guru MIM
ini seolah mewarisi semangat berkreativitas dan berinovasi yang diajarkan
pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Meski awalnya dicaci, Kyai Dahlan tetap
menerapkan inovasinya dalam dunia pendidikan dan berhasil lestari sampai kini.
“Sebelum ini, kami pun telah mengadopsi cara cepat menghapal bagi siswa,
melalui sistem hanifida, sebagaimana pernah dilansir Radar beberapa waktu
lalu,” pungkasnya. (*)