Minggu, 24 Juni 2012

Mushola Unik Berwawasan Sains

*Mushola Subulus Salam, Wirosari, Batang









KREATIF- Seorang pengurus Mushola Subulus Salam, Wirosari, Batang,
 menunjukkan hasil kreasi anak-anak, berupa   papan nama yang terbuat
dari cangkang telur.


TIDAK ada yang berbeda dari Mushola Subulus Salam jika dipandang dari luar. Kecuali kesan asri, bangunan tempat ibadah yang terletak di Perumahan Wirosari, Kecamatan Batang ini relatif sama dengan mushola pada umumnya.

Tetapi kesimpulan awal seperti itu dipastikan gugur dengan sendirinya ketika kita memasuki bangunan mungil ini, terutama di bagian teras belakang. Dua buah aquarium ukuran cukup besar tak hanya efektif menjadi sekat dengan ruang wudhu. Lebih dari itu, aksesoris ruangan ini pun sukses mencuri sudut pandang. “Kami hanya ingin membangun keseimbangan, antara hablum minallah dan hablum minan nas, seperti filosofi logo mushola ini,” ungkap Takmir Mushola Subulus Salam, Ir Arif Lelono, belum lama ini.

Mushola ini dibangun tahun 2008, menempati tanah wakaf yang diberikan Bapak Niti Swasono kepada Muhammadiyah Cabang Batang. Dikatakan Arif, konsep keseimbangan dimanifestasikan dalam sejumlah kegiatan rutinnya, dari mulai zakat,  qurban, dana sosial untuk warga, pemberian santunan kepada jamaah yang sakit,  pengajian rutin  bulanan, terjemah Al Qur’an tiap subuh, hingga  wadah-wadah lain seperti Niswa Pustaka, dan Korrsa ( Komunitas Remaja Subulus Salaam) untuk wadah remaja musholla.
“Kegiatan pengajian pun, selain mendalami keilmuan agama, juga menyentuh pengetahuan umum. Kita pernah menghadirkan pawang ular, pakar VCO (Virgin Coconut Oil –red), hingga psikolog. Prinsipnya, selain sebagai centra ibadah, mushola juga bisa menjadi media pembelajaran bagi masyarakat,” terangnya.

Dalam semangat pembelajaran pula, Mushola kampung ini mencoba membangun tradisi keilmuan bagi sekitar. Sejumlah alat sains pun disediakan di sini, dari mulai mikroskop plus microbiocom yang terkoneksi ke PC, meja gambar geografis, hingga alat kesehatan seperti seperti alat terapi infra merah, alat pijat messager, menyediakan fasilitas lain seperti alat pengukur tekanan darah (tensi darah), alat pengukur kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat.
“Kita juga tengah menggagas rumah serangga, serta pengumpulan batu dari berbagai belahan dunia untuk pembelajaran geografi dan geologi. Bahkan papan nama untuk mushola ini telah dibuat oleh 13 anak dengan menggunakan cangkang telur. Kami ingin melihat Batang maju, terutama dalam keilmuan dan teknologi. Itu sebabnya kemarin kita menggelar kegiatan robotika,” tambah Arif.

Kecuali itu, Mushola yang dibangun swadaya ini pun ternyata berwawasan lingkungan. Sedikitnya ada 10 alat penyerap air hujan (biopori) yang mengelilingi bangunan ini. Buah-buahan dari mulai Markisa Erbis, Kersem, Sawo Bludru, mawar dengan 10 varietas bungga, hingga mangga, menghiasi komplek mushola mungil ini. “Sebuah tempat ibadah yang bersih dan asri pastilah membuat nyaman jamaah. Kedua, ini menjadi bagian dari kepedulian kita atas persoalan lingkungan,” sambungnya.

Arif mengakui, semua mimpi dan upaya mengembangkan Mushola Subulus Salam sebagai bagian dari agen perubahan tidaklah mudah. Seperti halnya ketidaklaziman mushola memiliki aquarium dan peralatan sains, seperti itulah gambaran perjalanan para takmirnya. Namun demikian, para pengelola mengaku terinspirasi oleh kiprah pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yang juga seorang motor perubahan. “Awalnya, metode yang digunakan Beliau juga ditentang masyarakat, karena bukan hanya tak lazim, tetapi juga mendahului zaman. Maka apa yang kami lakukan belumlah seberapa dibanding KH Ahmad Dahlan,” tandasnya.

“Kami hanya mengeksplor dan berinovasi guna memunculkan sesuatu yang baru dan bermanfaat. Bukan asal beda, tetapi memiliki konsep yang jelas. Sayangnya, kami hanya mushola kampung, sehingga tidak mudah mencari dana. Semoga apa yang kami mulai ini bisa mengundang kepedulian dari segenap pihak,” pungkas Arif. (*)