KREATIF- Seorang pengurus Mushola Subulus Salam, Wirosari, Batang,
menunjukkan hasil kreasi anak-anak, berupa papan nama yang terbuat
dari cangkang telur.
TIDAK ada yang berbeda dari Mushola Subulus Salam
jika dipandang dari luar. Kecuali kesan asri, bangunan tempat ibadah yang
terletak di Perumahan Wirosari, Kecamatan Batang ini relatif sama dengan
mushola pada umumnya.
Tetapi kesimpulan awal seperti itu dipastikan gugur
dengan sendirinya ketika kita memasuki bangunan mungil ini, terutama di bagian
teras belakang. Dua buah aquarium ukuran cukup besar tak hanya efektif menjadi
sekat dengan ruang wudhu. Lebih dari itu, aksesoris ruangan ini pun sukses
mencuri sudut pandang. “Kami hanya ingin membangun keseimbangan, antara hablum
minallah dan hablum minan nas, seperti filosofi logo mushola ini,” ungkap
Takmir Mushola Subulus Salam, Ir Arif Lelono, belum lama ini.
Mushola ini dibangun tahun 2008, menempati tanah
wakaf yang diberikan Bapak Niti Swasono kepada Muhammadiyah Cabang Batang. Dikatakan
Arif, konsep keseimbangan dimanifestasikan dalam sejumlah kegiatan rutinnya,
dari mulai zakat, qurban, dana sosial
untuk warga, pemberian santunan kepada jamaah yang sakit, pengajian rutin bulanan, terjemah Al Qur’an tiap subuh,
hingga wadah-wadah lain seperti Niswa
Pustaka, dan Korrsa ( Komunitas Remaja Subulus Salaam) untuk wadah remaja
musholla.
“Kegiatan pengajian pun, selain mendalami keilmuan
agama, juga menyentuh pengetahuan umum. Kita pernah menghadirkan pawang ular,
pakar VCO (Virgin Coconut Oil –red), hingga psikolog. Prinsipnya, selain
sebagai centra ibadah, mushola juga bisa menjadi media pembelajaran bagi
masyarakat,” terangnya.
Dalam semangat pembelajaran pula, Mushola kampung
ini mencoba membangun tradisi keilmuan bagi sekitar. Sejumlah alat sains pun
disediakan di sini, dari mulai mikroskop plus microbiocom yang terkoneksi ke
PC, meja gambar geografis, hingga alat kesehatan seperti seperti alat terapi
infra merah, alat pijat messager, menyediakan fasilitas lain seperti alat
pengukur tekanan darah (tensi darah), alat pengukur kadar gula darah,
kolesterol, dan asam urat.
“Kita juga tengah menggagas rumah serangga, serta
pengumpulan batu dari berbagai belahan dunia untuk pembelajaran geografi dan
geologi. Bahkan papan nama untuk mushola ini telah dibuat oleh 13 anak dengan
menggunakan cangkang telur. Kami ingin melihat Batang maju, terutama dalam
keilmuan dan teknologi. Itu sebabnya kemarin kita menggelar kegiatan robotika,”
tambah Arif.
Kecuali itu, Mushola yang dibangun swadaya ini pun
ternyata berwawasan lingkungan. Sedikitnya ada 10 alat penyerap air hujan
(biopori) yang mengelilingi bangunan ini. Buah-buahan dari mulai Markisa Erbis,
Kersem, Sawo Bludru, mawar dengan 10 varietas bungga, hingga mangga, menghiasi
komplek mushola mungil ini. “Sebuah tempat ibadah yang bersih dan asri pastilah
membuat nyaman jamaah. Kedua, ini menjadi bagian dari kepedulian kita atas
persoalan lingkungan,” sambungnya.
Arif mengakui, semua mimpi dan upaya mengembangkan
Mushola Subulus Salam sebagai bagian dari agen perubahan tidaklah mudah.
Seperti halnya ketidaklaziman mushola memiliki aquarium dan peralatan sains,
seperti itulah gambaran perjalanan para takmirnya. Namun demikian, para pengelola
mengaku terinspirasi oleh kiprah pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yang
juga seorang motor perubahan. “Awalnya, metode yang digunakan Beliau juga
ditentang masyarakat, karena bukan hanya tak lazim, tetapi juga mendahului
zaman. Maka apa yang kami lakukan belumlah seberapa dibanding KH Ahmad Dahlan,”
tandasnya.
“Kami hanya mengeksplor dan berinovasi guna
memunculkan sesuatu yang baru dan bermanfaat. Bukan asal beda, tetapi memiliki
konsep yang jelas. Sayangnya, kami hanya mushola kampung, sehingga tidak mudah
mencari dana. Semoga apa yang kami mulai ini bisa mengundang kepedulian dari
segenap pihak,” pungkas Arif. (*)