Rabu, 07 Maret 2012

Intuisi Bapak


“Nah, selama ini untuk kebutuhan makan sehari-hari dari mana, pekerjaan apa?,” tanyanya. Sungguh pertanyaan ini seperti menohokku, menghujam tajam dan dalam ke relung kesadaranku. Aku nyaris tergagap menjawab pertanyaan Bapak yang meluncur saat kunjunganku beberapa hari lalu. Menjadi serius lantaran pertanyaan ini adalah yang pertama terlontar dari mulutnya setelah sekitar empat tahun tak bertemu.

Pertanyaan ini sebenar-benarnya menguncangkanku. Sesuatu yang mengingatkanku pada banyak hal tentang masa lalu; perjuangan hidup, pendidikan ala bapak, mimpi dan cita-cita serta banyak hal lain yang sulit kusimpulkan. “Sementara ini, penghasilanku dari nulis, Pak. Freelance nulis,” jawabku setelah beberapa saat terdiam.

“Tulisan apa, anakku?”

“Tulisan apapun, kadang sosial budaya, politik, kadang hukum, ya semacam artikel atau risalah ringkas. Kalau pas ada orderan ya bikin buku,” kataku lagi.

Bapak terdiam sesaat sambil melempar senyum simpul. “Selain itu, aktivitasmu apa?”

“Beberapa bulan terakhir ini, saya ikut mengawal proses hukum teman, Pak. Kebetulan teman saya itu sedang ada masalah hukum. Karena saya merasa cukup memahami permasalahannya, dan kesimpulannya teman saya relatif tak bersalah. Jadi saya bela semampu saya,”

“Adakah manfaatnya untuk umat, untuk publik?” tanya bapak lagi.

“Kebetulan, kasus ini juga terkait dengan nasib warga pemilik lahan yang belum terbayarkan hak-haknya. Jadi saya beserta pegiat sosial dan mahasiswa ikut memperjuangkan nasib warga,” terangku.

Kembali bapak terdiam. Dia menatapku tajam hingga mataku dan matanya tak lagi bertemu pandang. Keningnya sedikit berkerut. Aku menangkapnya sebagai keseriusan, memikirkan sesuatu. Mungkin tentangku, anak angkatnya yang masih berjibaku dengan sulitnya hidup setelah enam tahun mentas kuliah.
***

Terakhir bertemu bapak sekitar empat tahun lalu. Saat itu aku datang atas undangannya, mengisi materi tentang menulis. Empat tahun lalu itu aku masih berprofesi sebagai kuli tintas pada sebuah media lokal di Tegal. Aku datang dengan menghadiahinya sebuah buku, karya kecilku. Sebuah buku antologi tentang daerahku. Aku urun dua tulisan di dalamnya, merangkap editor buku tersebut. seingatku, bapak menerima buku itu sambil menepuk bahuku. Senyumnya pun mengembang. “Wah, anakku sudah jadi penuis,” ungkapnya saat itu.

Kini, ketika aku kembali bertemu, aku pun menghadiahinya kembali dengan sebuah buku. Masih buku tentang antologi penulis-penulis lokal di mana aku menjadi salah satu editornya. Bapakpun bukan tak bangga menerimanya. Tetapi kali ini dia seperti menyampaikan firasatnya bahwa nasib hidupku belum beranjak. Aku menganggapnya justru sebagai kemunduran. Karena tak seperti empat tahun lalu, kini aku tak lagi memiliki pekerjaan tetap.

***
“Anakku, bapak pun memiliki anak-anak angkat yang sepertimu. Mereka hidup dengan idealismenya. Waktunya sebagian besar dihabiskan untuk memikirkan nasib orang lain, memperjuangkannya. Ada juga yang jadi penulis dan bahkan editor senior. Bapak belajar banyak darinya. Tapi satu hal, keterlibatan dan keberpihakan mereka ternyata tak diimbangi dengan upanya memperjuangkan nasibnya sendiri,” tukas Bapak.

“Bapak tidak memintamu untuk menjual idealisme demi kesuksesan, bahkan bapak haramkan. Tetapi jangan hanya menjadi lilin, yang mengorbankan dirinya untuk menerangi banyak orang. Kenapa tidak menjadi lampu, yang menerangi dirinya lantas menerangi orang lain,” tegasnya.

Kata-kata bapak kian menghuam. Ia serupa busur panah, yang kian mengarah ke sasaran. Perasaanku tambah bergejolak tak karuan. Aku justru berpikir, kenapa pesan bapak itu seperti menjawab kegelisahanku beberapa waktu terakhir ini. Seolah dia tahu situasi yang tengah dihadapi anaknya, aku.

“Jujur, bapakpun pernah mengalami situasi sepertimu. Waktu bapak sebagian besar dihibahkan untuk perjuangan, memperjuangkan orang lain. Menangani banyak hal yang bernilai sosial. Tetapi akhirnya Bapak memutuskan untuk menentukan satu pilihan sebagai pegangan, baru setelahnya berbuat ini dan itu untuk kepentingan orang lain,”

“Pilih satu kegiatan, pekerjaan sebagai backbone, sebagai tulang punggung, tekuni itu, fokus. Pilihan inilah yang akhirnya menghidupi bapak dan juga orang lain. Sukseskan dirimu dengan menekuni satu hal itu, lantas muliakanlah dirimua dengan berbagi. Semakin sukses kita, maka semakin banyak kesempatan pula untuk berbagi,” pungkas bapak.

Setelah pertemuan itu, aku pun beranjak dari Bogor kembali ke tlatahku. Jasad boleh berpisah, tetapi pesan-pesan itu masih menyergapku. Aku serupa burung yang tanpa perlawanan menerima busur panah, menghujam ke jantung. Anehnya, tak satupun nasihat bapak yang menyimpang dari situasi batinku, hingga tak satupun yang mampu kutolak.  

Agh, bapakku masih seperti yang dulu. Selalu saja tahu persoalan yang dihadapi anak-anaknya. Tujuh tahun aku dididiknya, dipersiapkan menjadi orang sukses. Dan sepanjang itu pula rupanya bakap memahami kecenderungan anak-anaknya. Bahkan kini, setelah aku tak lagi bersama, setelah sekian tahun tak bertemu, dia masih mampu menangkap kegelisanku, kecemasanku, dan tentu saja nasibku. Mungkinkah ini semacam intuisi seorang bapak terhadap anaknya, simpul antar hati yang terpisah? Aku tak benar-benar tahu jawabnya.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar