“Nah, selama ini untuk kebutuhan makan sehari-hari dari mana,
pekerjaan apa?,” tanyanya. Sungguh pertanyaan ini seperti menohokku, menghujam
tajam dan dalam ke relung kesadaranku. Aku nyaris tergagap menjawab pertanyaan Bapak
yang meluncur saat kunjunganku beberapa hari lalu. Menjadi serius lantaran pertanyaan
ini adalah yang pertama terlontar dari mulutnya setelah sekitar empat tahun tak
bertemu.
Pertanyaan ini sebenar-benarnya menguncangkanku. Sesuatu yang
mengingatkanku pada banyak hal tentang masa lalu; perjuangan hidup, pendidikan
ala bapak, mimpi dan cita-cita serta banyak hal lain yang sulit kusimpulkan. “Sementara
ini, penghasilanku dari nulis, Pak. Freelance nulis,” jawabku setelah beberapa
saat terdiam.
“Tulisan apa, anakku?”
“Tulisan apapun, kadang sosial budaya, politik, kadang hukum, ya
semacam artikel atau risalah ringkas. Kalau pas ada orderan ya bikin buku,”
kataku lagi.
Bapak terdiam sesaat sambil melempar senyum simpul. “Selain itu, aktivitasmu
apa?”
“Beberapa bulan terakhir ini, saya ikut mengawal proses hukum
teman, Pak. Kebetulan teman saya itu sedang ada masalah hukum. Karena saya
merasa cukup memahami permasalahannya, dan kesimpulannya teman saya relatif tak
bersalah. Jadi saya bela semampu saya,”
“Adakah manfaatnya untuk umat, untuk publik?” tanya bapak lagi.
“Kebetulan, kasus ini juga terkait dengan nasib warga pemilik lahan
yang belum terbayarkan hak-haknya. Jadi saya beserta pegiat sosial dan
mahasiswa ikut memperjuangkan nasib warga,” terangku.
Kembali bapak terdiam. Dia menatapku tajam hingga mataku dan
matanya tak lagi bertemu pandang. Keningnya sedikit berkerut. Aku menangkapnya
sebagai keseriusan, memikirkan sesuatu. Mungkin tentangku, anak angkatnya yang
masih berjibaku dengan sulitnya hidup setelah enam tahun mentas kuliah.
***
Terakhir bertemu bapak sekitar empat tahun lalu. Saat itu aku
datang atas undangannya, mengisi materi tentang menulis. Empat tahun lalu itu
aku masih berprofesi sebagai kuli tintas pada sebuah media lokal di Tegal. Aku datang
dengan menghadiahinya sebuah buku, karya kecilku. Sebuah buku antologi tentang
daerahku. Aku urun dua tulisan di dalamnya, merangkap editor buku tersebut. seingatku,
bapak menerima buku itu sambil menepuk bahuku. Senyumnya pun mengembang. “Wah,
anakku sudah jadi penuis,” ungkapnya saat itu.
Kini, ketika aku kembali bertemu, aku pun menghadiahinya kembali
dengan sebuah buku. Masih buku tentang antologi penulis-penulis lokal di mana
aku menjadi salah satu editornya. Bapakpun bukan tak bangga menerimanya. Tetapi
kali ini dia seperti menyampaikan firasatnya bahwa nasib hidupku belum
beranjak. Aku menganggapnya justru sebagai kemunduran. Karena tak seperti empat
tahun lalu, kini aku tak lagi memiliki pekerjaan tetap.
***
“Anakku, bapak pun memiliki anak-anak angkat yang sepertimu. Mereka
hidup dengan idealismenya. Waktunya sebagian besar dihabiskan untuk memikirkan
nasib orang lain, memperjuangkannya. Ada juga yang jadi penulis dan bahkan
editor senior. Bapak belajar banyak darinya. Tapi satu hal, keterlibatan dan
keberpihakan mereka ternyata tak diimbangi dengan upanya memperjuangkan
nasibnya sendiri,” tukas Bapak.
“Bapak tidak memintamu untuk menjual idealisme demi kesuksesan,
bahkan bapak haramkan. Tetapi jangan hanya menjadi lilin, yang mengorbankan
dirinya untuk menerangi banyak orang. Kenapa tidak menjadi lampu, yang
menerangi dirinya lantas menerangi orang lain,” tegasnya.
Kata-kata bapak kian menghuam. Ia serupa busur panah, yang kian
mengarah ke sasaran. Perasaanku tambah bergejolak tak karuan. Aku justru
berpikir, kenapa pesan bapak itu seperti menjawab kegelisahanku beberapa waktu
terakhir ini. Seolah dia tahu situasi yang tengah dihadapi anaknya, aku.
“Jujur, bapakpun pernah mengalami situasi sepertimu. Waktu bapak
sebagian besar dihibahkan untuk perjuangan, memperjuangkan orang lain. Menangani
banyak hal yang bernilai sosial. Tetapi akhirnya Bapak memutuskan untuk
menentukan satu pilihan sebagai pegangan, baru setelahnya berbuat ini dan itu
untuk kepentingan orang lain,”
“Pilih satu kegiatan, pekerjaan sebagai backbone, sebagai tulang
punggung, tekuni itu, fokus. Pilihan inilah yang akhirnya menghidupi bapak dan
juga orang lain. Sukseskan dirimu dengan menekuni satu hal itu, lantas
muliakanlah dirimua dengan berbagi. Semakin sukses kita, maka semakin banyak
kesempatan pula untuk berbagi,” pungkas bapak.
Setelah pertemuan itu, aku pun beranjak dari Bogor kembali ke
tlatahku. Jasad boleh berpisah, tetapi pesan-pesan itu masih menyergapku. Aku serupa
burung yang tanpa perlawanan menerima busur panah, menghujam ke jantung. Anehnya,
tak satupun nasihat bapak yang menyimpang dari situasi batinku, hingga tak
satupun yang mampu kutolak.
Agh, bapakku masih seperti yang dulu. Selalu saja tahu persoalan
yang dihadapi anak-anaknya. Tujuh tahun aku dididiknya, dipersiapkan menjadi
orang sukses. Dan sepanjang itu pula rupanya bakap memahami kecenderungan
anak-anaknya. Bahkan kini, setelah aku tak lagi bersama, setelah sekian tahun
tak bertemu, dia masih mampu menangkap kegelisanku, kecemasanku, dan tentu saja
nasibku. Mungkinkah ini semacam intuisi seorang bapak terhadap anaknya, simpul
antar hati yang terpisah? Aku tak benar-benar tahu jawabnya.***
