Rabu, 15 Februari 2012

Melawan Bayang-bayang


Agh, aku kembali terjebak pada situasi semacam ini. Sebuah situasi yang sulit dirumuskan dalam definisi. Aku seperti berada di belantara yang terkepung musuh dari berbagai penjuru. Celakanya, aku tak lagi tahu apa yang semestinya kulakukan. Menjadi centang perenang. Kalut!!!

Tak tahu kenapa, beberapa hari ini aku seperti dikeroyok oleh setumpuk masalah, tepatnya permasalahan. Semua yang menjadi beban pikiran mendadak berkerumun lantas mengeroyokku. Dengan seporadis. Tak terdeteksi dari mana asal muasalnya. Yang kurasakan hanyalah sesak, oleh satu, dua, tiga, dan seterusnya yang mendesak-desak. Yang muncul kemudian adalah tensi yang meledak, menjadi lebih sensi, meraba-raba ketakutan dan kecemasan yang sambung menyambung –tak berkesudahan. Lalu, aku memilih ruang-ruang sunyi. Ruang-ruang tak berpenghuni. Menjadi sendiri, menghayati kesendirian.

Kini, aku seperti tengah menyulam puzzle-puzzle kecemasan ini, lantas sketsanya menjadi jeruji yang mengurung tubuhku. Aku dihantui oleh imajinasiku sendiri. Agh, jangan-jangan begini, agh jangan-jangan begitu, seperti ini, seperti itu, dan seterusnya. Kenapa semua ini bergentayangan di otakku. Kenapa mendadak aku dihantui oleh pikiran ini dan itu yang tak menentu ujungnya. Aku takut menghadapi semuanya. Mengurung diri dalam lorong labirin yang tak berkesudahan. Aku tak berdaya. Lunglai dan limbung melawan yang tak nyata. Meratapi situasi yang tak terjamah. Melawan bayang-bayang.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar