Agh, aku
kembali terjebak pada situasi semacam ini. Sebuah situasi yang sulit dirumuskan
dalam definisi. Aku seperti berada di belantara yang terkepung musuh dari
berbagai penjuru. Celakanya, aku tak lagi tahu apa yang semestinya kulakukan. Menjadi
centang perenang. Kalut!!!
Tak tahu kenapa, beberapa hari ini aku
seperti dikeroyok oleh setumpuk masalah, tepatnya permasalahan. Semua yang
menjadi beban pikiran mendadak berkerumun lantas mengeroyokku. Dengan seporadis.
Tak terdeteksi dari mana asal muasalnya. Yang kurasakan hanyalah sesak, oleh
satu, dua, tiga, dan seterusnya yang mendesak-desak. Yang muncul kemudian
adalah tensi yang meledak, menjadi lebih sensi, meraba-raba ketakutan dan
kecemasan yang sambung menyambung –tak berkesudahan. Lalu, aku memilih ruang-ruang sunyi. Ruang-ruang tak berpenghuni. Menjadi sendiri, menghayati kesendirian.
Kini, aku seperti tengah menyulam
puzzle-puzzle kecemasan ini, lantas sketsanya menjadi jeruji yang mengurung
tubuhku. Aku dihantui oleh imajinasiku sendiri. Agh, jangan-jangan begini, agh
jangan-jangan begitu, seperti ini, seperti itu, dan seterusnya. Kenapa semua
ini bergentayangan di otakku. Kenapa mendadak aku dihantui oleh pikiran ini dan
itu yang tak menentu ujungnya. Aku takut menghadapi semuanya. Mengurung diri
dalam lorong labirin yang tak berkesudahan. Aku tak berdaya. Lunglai dan
limbung melawan yang tak nyata. Meratapi situasi yang tak terjamah. Melawan bayang-bayang.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar