OMONGAN politisi adalah gombal. Perilaku yang ditampilkannya adalah palsu.
Semua fatamorgana, karena muaranya selalu saja kepentingan dan kepentingan.
Untuk diakui, untuk dikenal, untuk dianggap peduli, untuk dianggap berjiwa
besar, negarawan dan sekian banyak yang tersembunyi dari mereka.
Ceritanya
sederhana. Politik adalah tanpa definisi, tak hitam dan juga tak putih, samar,
absurd atau kerap disebut daerah abu-abu. Kawan, lawan, kawan yang tiba-tiba
menjadi lawan atau lawan yang diam-diam menjadi kawan. Sebab tak ada
konsistensi, istiqomah, taat pakem, fatsun dan garis linier. Semua mengalir,
fleksibel, lentur, adaptatif, bunglon. "Loh, kemarin kan Pak Bupati baru
turun, bagi-bagi bantuan sembako. Nyatanya, rakyat bergembira menyambutnya,
bersorak, beryel-yel. Hidup Bupati! Hidup Bupati! Itu kan baik, peduli sama
kita yang baru kena musibah, sedang susah. Dia berbuat, dari pada cuma ngomong
kaya Bapak," ungkap Ngatiyem sambil menyuguhkan segelas kopi dan sepiring
singkong goreng yang masih panas ke suaminya, di meja kayu kecil.
Kontan
Ngatiyem nggak terima dengan omongan suaminya, Parmin, yang menurutnya terlalu
berprasangka jelek, suudzon sama Bupati yang baru saja memberinya sekantong
beras lengkap dengan minyak goreng, gula pasir dan mie instan serta selembar
amplop berisi uang 20 ribuan. Nyatiyem pun masih ingat betul warna amplop putih
ukuran kecil. Di pojok kanan amplop tertulis Partai Kangkung, berwarna hijau
tua, dengan lambang seikat kangkung.
Bagi
Ngatiyem, Parmin terlalu sok tahu. "Bapak ini kebanyakan nonton TV, jadi
omongannya nglantur ke mana. Namanya dikasih ya diterima saja, dan mestinya
terima kasih. Dah untung mau dikasih. Coba kalau kemarin pas pembagian di Balai
Desa Bapak ngomong kaya gitu, boro-boro dikasih jatah, malah ditangkap sama pak
polisi," lanjutnya menyalahkan.
Parmin
yang baru saja mengangkat gelas, tiba-tiba kembali meletakkan gelasnya kembali
di atas pising tatakannya dengan agak keras, seolah menjawab omelan sang istri.
‘PRANG’. Dia nampaknya terpancing dengan omongan pedas istrinya. Dia tak habis
pikir, kenapa istrinya sedemikian bergairah membela Bupati Tegal, Soekoco.
“Suaminya sendiri disalahin, malah mbela Bupati, orang yang sama sekali tak
dikenalnya. Boro-boro bergaris nasab sama, tetangga pun bukan. Jangankan
sodara, kenal aja enggak,” gerutu Parmin dalam hatinya. “Loh kamu kok semangat
banget. Ini politik, bukan murni berbuat kebajikan. Mana ada politisi yang
bersedekah dengan tulus, ikhlas, tanpa pamrih, tanpa embel-embel, nothing to
loose. Lihat saja amplopnya, jelas sekali tertulis Partai Kangkung. Kamu
itu Cuma dibodohi sama orang pinter,” sergahnya menyetop sunyi yang sejenak ada.
“Bapak
ini, bisanya cuma nuduh, nggak ada bukti. Coba buktikan kalau Bupati itu
pamrih, ada maksud dari memberi warga sembako. Ikhlas itu urusan hati, jiwa,
mana mungkin orang lain tahu. Yang paham Cuma Gusti Alloh!,” timpal Ngatiyem
yang tak terima dengan pendirian suaminya yang menurutnya sok pintar, sok tahu
daleman hati orang. “Makanya, bapak jangan ngremehin ngaji, jadi pikirannya
nggak kotor sama orang. Apa jangan-jangan bapak sudah nggak seneng duluan sama
pak Bupatinya. Makanya apapun yang dilakukan beliau selalu dicurigai.
Pikirannya Cuma negatif tok,” sambungnya.
Huh!
Tentu saja Parmin bertambah geram. Apa hubungannya dengan ngaji. Dia kan cuma
sedang menganalisa perilaku Bupati yang sok baik. Apa Ngatiyem tahu kalau
Bupatinya itu seneng ngaji apa nggak. Kan sama saja. Lalu ada apa dengan
Ngatiyem?
Urat di
dahi Parmin mengerat kencang, sehingga terlihat jelas garis-garisnya yang
kehijau-hijauan. Ia menelan ludah dan menahannya di kerongkongan, terasa seret.
Ia teguk lagi kopinya yang mulai hangat. Tangan kanannya tampak merogoh saku
celana sebelah kanan. Seketika dia mengeluarkan sebungkus rokok kretek dengan
korek gas yang disimpan di dalam bungkus rokoknya yang tinggal lima batang.
Parmin telah mengepulkan asap rokoknya ketika tiba-tiba dengan nada tinggi
menggertak istrinya. “Jadi, kamu lebih mbela Bupatimu yang nggak kamu kenal
asal-usulnya itu, daripada suamimu yang telah menikahimu lebih dari 10 tahun
ini. Yang telah memberimu dua anak laki-laki. Aku kan juga bisa menduga kalau
jangan-jangan, kamu juga mulai suka sama Bupatimu yang lebih ganteng itu. Wong
dikasih tahu kok malah ngeyel. Terserah kamu aja lah. Tapi kalau nanti
Kabupaten Tegal ini ambruk, baru tahu rasa kamu,” tandasnya sambil membuang
mata.
“Loh,
Kang! Istighfar! Istighfar kang! Pikiranmu kok sampai sejauh itu. Berarti
kakang itu nuduh aku perempuan nggak bener! Kang..kang, mbok ya menghargai
sedikit perasaanku. Teganya kamu nuduh aku kaya gitu,” timpal Ngatiyem yang
suaranya mulai parau seperti mau nangis. Perempuan itu mulai kehabisan akal
untuk berpikir, kehabisan kata-kata untuk bicara. Dan yang tersisa adalah hanya
air mata yang mulai menetes.
Ngatiyem
masuk kamar sambil menahan isaknya. Nafasnya kasar bercampur dengan isi
hidungnya yang mulai seret seperti orang pilek, ingusnya naik turun.
Parmin
bingung. Lelaki bertubuh jangkung ini tak menyangka istrinya akan seperti ini.
“Aku tadi ngomong apa ya, kok Ngatiyem sampai nangis. Apakah perkataanku tadi
telah menyakitinya? Oh dasar perempuan, kalau kalah berdebat, senjatanya
pamungkasnya ya nangis jadi itu. Tapi, aku jahat juga ya,” Parmin berpikir
tentang apa yang baru saja terjadi. Perdebatan atau pertengkaran dia tak tahu.
Yang dia pahami, sekarang istrinya masuk kamar dan mengunci pintunya sekencang
mungkin.
Dari luar
hanya terdengar isak tangisnya yang tersedu-sedu. Kadang seperti anak bungsunya
Ratih yang masih balita. Ketika minta dibelikan sesuatu pasti merengek seperti
simboknya itu sekarang. “Politik memang memecah belah orang. Kenapa juga harus
diributkan ya. Wong nggak ada urusannya dengan kebutuhan perut. Wualah. Maafin
suamimu ini, Ngatiyem,”ungkap Parmin dalam hatinya sambil memegangi kepalanya
dengan tangan kanannya.***
