Jumat, 17 Februari 2012

Prasangka Parmin


OMONGAN politisi adalah gombal. Perilaku yang ditampilkannya adalah palsu. Semua fatamorgana, karena muaranya selalu saja kepentingan dan kepentingan. Untuk diakui, untuk dikenal, untuk dianggap peduli, untuk dianggap berjiwa besar, negarawan dan sekian banyak yang tersembunyi dari mereka.

Ceritanya sederhana. Politik adalah tanpa definisi, tak hitam dan juga tak putih, samar, absurd atau kerap disebut daerah abu-abu. Kawan, lawan, kawan yang tiba-tiba menjadi lawan atau lawan yang diam-diam menjadi kawan. Sebab tak ada konsistensi, istiqomah, taat pakem, fatsun dan garis linier. Semua mengalir, fleksibel, lentur, adaptatif, bunglon. "Loh, kemarin kan Pak Bupati baru turun, bagi-bagi bantuan sembako. Nyatanya, rakyat bergembira menyambutnya, bersorak, beryel-yel. Hidup Bupati! Hidup Bupati! Itu kan baik, peduli sama kita yang baru kena musibah, sedang susah. Dia berbuat, dari pada cuma ngomong kaya Bapak," ungkap Ngatiyem sambil menyuguhkan segelas kopi dan sepiring singkong goreng yang masih panas ke suaminya, di meja kayu kecil.

Kontan Ngatiyem nggak terima dengan omongan suaminya, Parmin, yang menurutnya terlalu berprasangka jelek, suudzon sama Bupati yang baru saja memberinya sekantong beras lengkap dengan minyak goreng, gula pasir dan mie instan serta selembar amplop berisi uang 20 ribuan. Nyatiyem pun masih ingat betul warna amplop putih ukuran kecil. Di pojok kanan amplop tertulis Partai Kangkung, berwarna hijau tua, dengan lambang seikat kangkung.

Bagi Ngatiyem, Parmin terlalu sok tahu. "Bapak ini kebanyakan nonton TV, jadi omongannya nglantur ke mana. Namanya dikasih ya diterima saja, dan mestinya terima kasih. Dah untung mau dikasih. Coba kalau kemarin pas pembagian di Balai Desa Bapak ngomong kaya gitu, boro-boro dikasih jatah, malah ditangkap sama pak polisi," lanjutnya menyalahkan.

Parmin yang baru saja mengangkat gelas, tiba-tiba kembali meletakkan gelasnya kembali di atas pising tatakannya dengan agak keras, seolah menjawab omelan sang istri. ‘PRANG’. Dia nampaknya terpancing dengan omongan pedas istrinya. Dia tak habis pikir, kenapa istrinya sedemikian bergairah membela Bupati Tegal, Soekoco. “Suaminya sendiri disalahin, malah mbela Bupati, orang yang sama sekali tak dikenalnya. Boro-boro bergaris nasab sama, tetangga pun bukan. Jangankan sodara, kenal aja enggak,” gerutu Parmin dalam hatinya. “Loh kamu kok semangat banget. Ini politik, bukan murni berbuat kebajikan. Mana ada politisi yang bersedekah dengan tulus, ikhlas, tanpa pamrih, tanpa embel-embel, nothing to loose. Lihat saja amplopnya, jelas sekali tertulis Partai Kangkung. Kamu itu Cuma dibodohi sama orang pinter,” sergahnya menyetop sunyi yang sejenak ada.

“Bapak ini, bisanya cuma nuduh, nggak ada bukti. Coba buktikan kalau Bupati itu pamrih, ada maksud dari memberi warga sembako. Ikhlas itu urusan hati, jiwa, mana mungkin orang lain tahu. Yang paham Cuma Gusti Alloh!,” timpal Ngatiyem yang tak terima dengan pendirian suaminya yang menurutnya sok pintar, sok tahu daleman hati orang. “Makanya, bapak jangan ngremehin ngaji, jadi pikirannya nggak kotor sama orang. Apa jangan-jangan bapak sudah nggak seneng duluan sama pak Bupatinya. Makanya apapun yang dilakukan beliau selalu dicurigai. Pikirannya Cuma negatif tok,” sambungnya.

Huh! Tentu saja Parmin bertambah geram. Apa hubungannya dengan ngaji. Dia kan cuma sedang menganalisa perilaku Bupati yang sok baik. Apa Ngatiyem tahu kalau Bupatinya itu seneng ngaji apa nggak. Kan sama saja. Lalu ada apa dengan Ngatiyem?

Urat di dahi Parmin mengerat kencang, sehingga terlihat jelas garis-garisnya yang kehijau-hijauan. Ia menelan ludah dan menahannya di kerongkongan, terasa seret. Ia teguk lagi kopinya yang mulai hangat. Tangan kanannya tampak merogoh saku celana sebelah kanan. Seketika dia mengeluarkan sebungkus rokok kretek dengan korek gas yang disimpan di dalam bungkus rokoknya yang tinggal lima batang. Parmin telah mengepulkan asap rokoknya ketika tiba-tiba dengan nada tinggi menggertak istrinya. “Jadi, kamu lebih mbela Bupatimu yang nggak kamu kenal asal-usulnya itu, daripada suamimu yang telah menikahimu lebih dari 10 tahun ini. Yang telah memberimu dua anak laki-laki. Aku kan juga bisa menduga kalau jangan-jangan, kamu juga mulai suka sama Bupatimu yang lebih ganteng itu. Wong dikasih tahu kok malah ngeyel. Terserah kamu aja lah. Tapi kalau nanti Kabupaten Tegal ini ambruk, baru tahu rasa kamu,” tandasnya sambil membuang mata.

“Loh, Kang! Istighfar! Istighfar kang! Pikiranmu kok sampai sejauh itu. Berarti kakang itu nuduh aku perempuan nggak bener! Kang..kang, mbok ya menghargai sedikit perasaanku. Teganya kamu nuduh aku kaya gitu,” timpal Ngatiyem yang suaranya mulai parau seperti mau nangis. Perempuan itu mulai kehabisan akal untuk berpikir, kehabisan kata-kata untuk bicara. Dan yang tersisa adalah hanya air mata yang mulai menetes.

Ngatiyem masuk kamar sambil menahan isaknya. Nafasnya kasar bercampur dengan isi hidungnya yang mulai seret seperti orang pilek, ingusnya naik turun.

Parmin bingung. Lelaki bertubuh jangkung ini tak menyangka istrinya akan seperti ini. “Aku tadi ngomong apa ya, kok Ngatiyem sampai nangis. Apakah perkataanku tadi telah menyakitinya? Oh dasar perempuan, kalau kalah berdebat, senjatanya pamungkasnya ya nangis jadi itu. Tapi, aku jahat juga ya,” Parmin berpikir tentang apa yang baru saja terjadi. Perdebatan atau pertengkaran dia tak tahu. Yang dia pahami, sekarang istrinya masuk kamar dan mengunci pintunya sekencang mungkin.
Dari luar hanya terdengar isak tangisnya yang tersedu-sedu. Kadang seperti anak bungsunya Ratih yang masih balita. Ketika minta dibelikan sesuatu pasti merengek seperti simboknya itu sekarang. “Politik memang memecah belah orang. Kenapa juga harus diributkan ya. Wong nggak ada urusannya dengan kebutuhan perut. Wualah. Maafin suamimu ini, Ngatiyem,”ungkap Parmin dalam hatinya sambil memegangi kepalanya dengan tangan kanannya.***  

Kamis, 16 Februari 2012

EKSPANSI SOSIOLOGI ATAS SASTRA


oleh Akhmad Saefudin*

Sosiologi sastra : Sebuah tinjauan Historis
Dalam perspektif keilmuan, sosiologi sastra adalah sebuah bentuk studi interdisipliner; lintas disiplin yang memuat dua wilayah keilmuan yang berbeda : sosiologi di satu sisi dan sastra pada spektrum keilmuan yang lain. Logika yang sama barangkali akan dijumpai dalam disiplin sosiologi hukum, sosiologi ekonomi, sosiologi politik dan yang lainnya.  Semua yang tersebut di atas ini, mengandaikan kompetensi keilmuan sosiologi untuk menjadikan ilmu-ilmu lainnya itu (politik, hukum, ekonomi atau bahkan sastra) sebagai wilayah kajiannya.
Dalam konstelasi dunia keilmuan sendiri, sosiologi sastra –sebagai disiplin ilmu- terbilang baru.  Kelahiran sosiologi sastra adalah jauh di bawah kemunculan disiplin sosiologi, apalagi sastra.  Sosiologi sendiri, setidaknya resmi mendeklarasikan dirinya sebagai disiplin ilmu sejak pertama kalinya Auguste Comte (baca : bapak sosiologi) memperkenalkan istilah sosiologi sebagai ilmu positif (+ 1830).  Bahkan, jauh sebelum Comte memperkenalkan sosiologi sebagai disiplin ilmu, dunia arab telah melahirkan seorang tokoh besar, yang justru menggunakan pendekatan sosiologis untuk menganalisis proses perubahan sosial.  Ilmuwan itu tak lain adalah Ibnu Khaldun. Sejak itu, secara resmi sosiologi berdiri sebagai ilmu yang obyektif.  Swingewood (dalam Faruk, 2003) mendefinisikan sosiologi sebagai studi yang ilmiah dan obyektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga dan proses-proses sosial.
Sementara itu, sastra sendiri sebagai disiplin ilmu seringkali diposisikan dalam logika yang berbeda dengan sosiologi atau ilmu-ilmu obyektif lainnya.  Karena asumsi orang tentang sastra selalu mengarah pada wilayah subyektif manusia, atau kemampuan imajiner manusia untuk memotret realitasnya.  Dalam hitungan umur, disiplin sastra jauh melampaui sosiologi.  Filusuf Yunani macam Plato dan Aris Toteles bahkan secara teoritis telah banyak berbicara tentang sastra sekitar abad 4-5 masehi. Lebih lanjut, Plato misalkan memaknai sastra tidak lebih sebagai tiruan dari realitas atau dalam istilahnya disebut mimesis.  Maka paska Yunani, sastra pun berkembang dengan pesatnya sebagai bagian dari –minimal- budaya masyarakat.  Karya-karya sastra macam syair, puisi, novel dan lainnya berkeluaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan seni. 
Meskipun demikian, kemunculan sosiologi sastra –dibanding dengan kelahiran sosiologi atau sastra- sekali lagi terbilang sangat lambat.  Bahkan sampai sekitar akhir tahun 60-an, nama sosiologi sastra belum tercatat dalam Indeks International Encyclopedia of The Social Science.

Imajinasi Sosiologi : Bermain Sastra Melalui Sosiologi
Sipapun tahu, sastra sebagai disiplin ilmu, secara monodisipliner mampu melakukan kajian atau kritik atas dirinya sendiri.  Sastra secara internal menilai mampu untuk melakukan proses pemberdayaan atas dirinya sendiri.  Kecenderungan studi yang monodisipliner ini umumnya berakibat pada pemahaman yang dihasilkan sangatlah sempit, bersifat reduksionis dan tak mustahil cacat dalam membaca sebuah realitas yang utuh.  Lebih dari itu, sastra akhirnya berjibaku dengan dunianya sendiri tanpa mencoba melakukan atau membuka diri terhadap kemungkinan perspektif lain di luar dunianya.
Dalam konteks inilah, sosiologi sastra hadir sebagai alternatif atas kecenderungan studi sastra yang monodisipliner.  Sosiologi sastra mencoba menawarkan sebuah studi interdisipliner; lintas disiplin; yaitu bagaimana sastra dikaji secara sosiologis.  Sosiologi dalam hal ini, menjadi semacam pendeekatan metode; alat analisis; atau alat kritik terhadap karya-karya sastra.  Jadi, sosiologi sastra adalah bagaimana berimajinasi untuk mengkaji sastra secara sosiologis.
Melalui sosiologi sastra, kita dimungkinkan untuk melihat konteks eksternal yang bertautan dengan karya sastra atau bahkan mempengaruhi bagaimana bentuk dan isi sebuah karya sastra.  Konteks eksternal yang dimaksud bisa berupa setting sosialpengarang, ideologi, pola budaya, kepercayaan atau agama, dan bahkan negara.  Maka pada aras ini pula studi sastra dengan pendekatan interdisipliner justru menguntungkan sastra itu sendiri.  Seperti diungkapkan oleh Arif Rohman (dalam Akhmad Maulani, 2003), setidaknya ada 3 hal yang didapat dari studi sastra secara interdisipliner ini.  Pertama, perspektif interdisipliner sastra tidak akan mengasingkan sastra dari studi-studi kemanusiaan praktis.  Kedua, karya sastra akan sejajar dengan antropologi, sosiologi, sejarah, serta ilmu-ilmu sosial lainnya. Ketiga, orang akan dapat melihat persoalan serta realitas yang terjadi secara lebih utuh dan komperhensif.
Dalam pemahaman lain,sosiologi sastra justru ingin memposisikan sastra tidak hanya dalam wilayah imajinasi an sich, melainkan juga memahami bahwa konstruksi imajiner pun tak bisa lepas dari fakta-fakta sosio-kultural.  Adalah mustahil, bahwa konstruksi imajiner sebuah karya sastra, hadir dalam kehampaan ruang dan waktu; lepas dari konteks zaman di mana penulis menuangkan ide-ide dalam karyanya.  Jadi pemahamannya adalah dialektis antara yang imajinatif dengan yang real.


Sosiologi Sastra yang berwajah Ganda
Bagi kita yang sering dipusingkan dengan rumitnya kerangka teoritis sosiologi, barangkali tidak akan nyaman bergelut dengan sosiologi sastra yang juga berwujud tak jauh dengan sosiologi.  Karena setiap upaya untuk memahami sosiologi sastra, akan dihadapkan dengan beragamnya pendekatan sosiologis yang digunakan dalam studi sastra.  Hasilnya, siapa saja yang tidak siap dengan keruwetan teori-teori sosiologi, barangkali memilih untuk mengurungkan niatnya mempelajari sosiologi sastra.  Sebaliknya, bagi mereka yang terlalu sering bersetubuh dengan teori-teori sosiologi yang rumit ini, pasti akan biasa saja menghadapi sosiologi sastra; tidak gagap, tapi alih-alih menikmati kerumitan sosiologi sastra ini.
Beberapa ahli pun sebenarnya cukup beragam dalam menyikapi realitas sosiologi sastra ini. Swingewood menilai sosiologi sastra tidak cukup mapan untuk dikatakan sebagai disiplin ilmu, karena banyak analisis sosiologisnya yang dinilainya berkualitas buruk.  Sementara itu, Wolf bahkan menuduh sosiologi sastra sebagai tanpa bentuk; tidak terdefinisikan atau kumpulan yang belum utuh.  Dan satu lagi yang diungkapkan oleh Daiches bahwa sosiologi tidaklah cukup punya data untuk melakukan studi-studi kritik atas sastra.
Permasalahan dalam sosiologi sastra ini, akan lebih jelas ketika kita mencoba menelusuri bagaimana pendekatan-pendekatan sosiologis yang digunakan dalam studi kritik sastra.  Akan banyak pendekatan dalam sosiologi sastra yang sebenarnya semakin menampakkan wajah sosiologi satra yang tidak tunggal, tapi beragam dan bahkan terkesan saling terlibat dalam perbantahan.  Dalam wilayah ini, kita mengenal pemdekatan marxis yang memang sangat dominan dalam sastra, tapi kita juga mengenal pendekatan fungsionalisme struktural ala Parsons, kemudian ada pendekatan strukturalisme genetik nya Goldman, pendekatan fenomenologis, Hegemoni Gramsci, teori dialogisnya Bakhtin, sampai kepada aliran sosiologi sastra post-modernisme yang sempat menjadi tren.
Semua pendekatan tersebut jelas berasal dari kerangka teori sosiologis atau ilmu-ilmu sosial yang kemudian merambah juga dalam wilayah sastra.  Banyaknya pendekatan dalam sosiologi sastra ini, barangkali menjadi semacam kekayaan tersendiri bagi khasanah keilmuan sosiologi sastra.  Namun, realitas ini juga bisa dimaknai sebagai bentuk ketidakmampuan sosiologi sastra untuk memformulasikan sebuah kerangka teoritis yang utuh dan tak berserakan. 
Penilaiannya, yang pasti terserah kepada kita, tapi bukankah dunia keilmuan sosial selalu meniscayakan keberagaman konsep, perbantahan teoritis, seperti halnya persaingan wilayah antara sosiologi makro dan mikro, antara teori konflik dengan   fungsionalisme, dan sebagainya.

Sosiologi Sastra: Ekspansi Sosiologi atas Sastra ?
(Sebuah Penutup)
Menilik kembali penetrasi sosiologi dalam studi kritik sastra, barangkali bisa dimaknai sebagai ijtihad intelektual yang menawarkan metode interdisipliner.  Metode ini, barangkat dari asumsi bahwa studi sastra yang monodisipliner, cenderung mereduksi dan tak jarang membuat cara pandang atas realitas menjadi picik dan tidak komperhensif.  Maka pada intinya, sosiologi sastra menjadi bagian dari upaya untuk memahami sastra dan realitas dalam wujud yang lebih utuh.  Artinya satu sisi, sosiologi sastra menunjukkan sesuatu yang konstruktif.
Namun demikian, pemahaman orang atas sosiologi sastra tidaklah melulu positif.  Pandangan di atas barangkali terkesan sangat sepihak dan perspektifis.  Sebab, di sisi lain orang bisa saja memaknai sosiologi sastra secara apriori dan penuh prasangka.  Dalam konteks ini, sah-sah saja orang menuduh kemunculan sosiologi sastra sebagai bagian dari ambisi  sosiologi untuk mengobjektivikasi dan mensubordinasikan disiplin sastra sebagai sub dari wilayah kajiannya.  Karena seperti diungkapkan oleh Pierre Bourdieu, sosiologi sastra tidak lebih dari upaya skeptis sosiologi yang tidak punya relevansi sama sekali.

Dalam pemahaman ini, sosiologi sastra dengan demikian adalah bagian dari pemenuhan karakter sosiologi yang ekspansif.  Karena seperti halnya ilmu politik, hukum, ekonomi,industri dan yang lainnya, sastra adalah korban dari ekspansi sosiologi atas wilayah keilmuan lain.  Memelesetkan istilah C. Wright Mills, sosiologi sastra adalah ekses dari imajinasi sosiologi yang bermimpi untuk memimpin dunia keilmuan, terutama sosial.  Kalau pemahamannya seperti ini, maka benar apa yang pernah disindir oleh sastrawan Umar Kayam, bahwa sosiologi adalah tak lebih sebagai ‘tong sampah’, yang mampu dan berupaya menampung segala-apapun. 

Rabu, 15 Februari 2012

Melawan Bayang-bayang


Agh, aku kembali terjebak pada situasi semacam ini. Sebuah situasi yang sulit dirumuskan dalam definisi. Aku seperti berada di belantara yang terkepung musuh dari berbagai penjuru. Celakanya, aku tak lagi tahu apa yang semestinya kulakukan. Menjadi centang perenang. Kalut!!!

Tak tahu kenapa, beberapa hari ini aku seperti dikeroyok oleh setumpuk masalah, tepatnya permasalahan. Semua yang menjadi beban pikiran mendadak berkerumun lantas mengeroyokku. Dengan seporadis. Tak terdeteksi dari mana asal muasalnya. Yang kurasakan hanyalah sesak, oleh satu, dua, tiga, dan seterusnya yang mendesak-desak. Yang muncul kemudian adalah tensi yang meledak, menjadi lebih sensi, meraba-raba ketakutan dan kecemasan yang sambung menyambung –tak berkesudahan. Lalu, aku memilih ruang-ruang sunyi. Ruang-ruang tak berpenghuni. Menjadi sendiri, menghayati kesendirian.

Kini, aku seperti tengah menyulam puzzle-puzzle kecemasan ini, lantas sketsanya menjadi jeruji yang mengurung tubuhku. Aku dihantui oleh imajinasiku sendiri. Agh, jangan-jangan begini, agh jangan-jangan begitu, seperti ini, seperti itu, dan seterusnya. Kenapa semua ini bergentayangan di otakku. Kenapa mendadak aku dihantui oleh pikiran ini dan itu yang tak menentu ujungnya. Aku takut menghadapi semuanya. Mengurung diri dalam lorong labirin yang tak berkesudahan. Aku tak berdaya. Lunglai dan limbung melawan yang tak nyata. Meratapi situasi yang tak terjamah. Melawan bayang-bayang.***