Minggu, 24 Juni 2012

Mushola Unik Berwawasan Sains

*Mushola Subulus Salam, Wirosari, Batang









KREATIF- Seorang pengurus Mushola Subulus Salam, Wirosari, Batang,
 menunjukkan hasil kreasi anak-anak, berupa   papan nama yang terbuat
dari cangkang telur.


TIDAK ada yang berbeda dari Mushola Subulus Salam jika dipandang dari luar. Kecuali kesan asri, bangunan tempat ibadah yang terletak di Perumahan Wirosari, Kecamatan Batang ini relatif sama dengan mushola pada umumnya.

Tetapi kesimpulan awal seperti itu dipastikan gugur dengan sendirinya ketika kita memasuki bangunan mungil ini, terutama di bagian teras belakang. Dua buah aquarium ukuran cukup besar tak hanya efektif menjadi sekat dengan ruang wudhu. Lebih dari itu, aksesoris ruangan ini pun sukses mencuri sudut pandang. “Kami hanya ingin membangun keseimbangan, antara hablum minallah dan hablum minan nas, seperti filosofi logo mushola ini,” ungkap Takmir Mushola Subulus Salam, Ir Arif Lelono, belum lama ini.

Mushola ini dibangun tahun 2008, menempati tanah wakaf yang diberikan Bapak Niti Swasono kepada Muhammadiyah Cabang Batang. Dikatakan Arif, konsep keseimbangan dimanifestasikan dalam sejumlah kegiatan rutinnya, dari mulai zakat,  qurban, dana sosial untuk warga, pemberian santunan kepada jamaah yang sakit,  pengajian rutin  bulanan, terjemah Al Qur’an tiap subuh, hingga  wadah-wadah lain seperti Niswa Pustaka, dan Korrsa ( Komunitas Remaja Subulus Salaam) untuk wadah remaja musholla.
“Kegiatan pengajian pun, selain mendalami keilmuan agama, juga menyentuh pengetahuan umum. Kita pernah menghadirkan pawang ular, pakar VCO (Virgin Coconut Oil –red), hingga psikolog. Prinsipnya, selain sebagai centra ibadah, mushola juga bisa menjadi media pembelajaran bagi masyarakat,” terangnya.

Dalam semangat pembelajaran pula, Mushola kampung ini mencoba membangun tradisi keilmuan bagi sekitar. Sejumlah alat sains pun disediakan di sini, dari mulai mikroskop plus microbiocom yang terkoneksi ke PC, meja gambar geografis, hingga alat kesehatan seperti seperti alat terapi infra merah, alat pijat messager, menyediakan fasilitas lain seperti alat pengukur tekanan darah (tensi darah), alat pengukur kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat.
“Kita juga tengah menggagas rumah serangga, serta pengumpulan batu dari berbagai belahan dunia untuk pembelajaran geografi dan geologi. Bahkan papan nama untuk mushola ini telah dibuat oleh 13 anak dengan menggunakan cangkang telur. Kami ingin melihat Batang maju, terutama dalam keilmuan dan teknologi. Itu sebabnya kemarin kita menggelar kegiatan robotika,” tambah Arif.

Kecuali itu, Mushola yang dibangun swadaya ini pun ternyata berwawasan lingkungan. Sedikitnya ada 10 alat penyerap air hujan (biopori) yang mengelilingi bangunan ini. Buah-buahan dari mulai Markisa Erbis, Kersem, Sawo Bludru, mawar dengan 10 varietas bungga, hingga mangga, menghiasi komplek mushola mungil ini. “Sebuah tempat ibadah yang bersih dan asri pastilah membuat nyaman jamaah. Kedua, ini menjadi bagian dari kepedulian kita atas persoalan lingkungan,” sambungnya.

Arif mengakui, semua mimpi dan upaya mengembangkan Mushola Subulus Salam sebagai bagian dari agen perubahan tidaklah mudah. Seperti halnya ketidaklaziman mushola memiliki aquarium dan peralatan sains, seperti itulah gambaran perjalanan para takmirnya. Namun demikian, para pengelola mengaku terinspirasi oleh kiprah pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yang juga seorang motor perubahan. “Awalnya, metode yang digunakan Beliau juga ditentang masyarakat, karena bukan hanya tak lazim, tetapi juga mendahului zaman. Maka apa yang kami lakukan belumlah seberapa dibanding KH Ahmad Dahlan,” tandasnya.

“Kami hanya mengeksplor dan berinovasi guna memunculkan sesuatu yang baru dan bermanfaat. Bukan asal beda, tetapi memiliki konsep yang jelas. Sayangnya, kami hanya mushola kampung, sehingga tidak mudah mencari dana. Semoga apa yang kami mulai ini bisa mengundang kepedulian dari segenap pihak,” pungkas Arif. (*)

Rabu, 07 Maret 2012

Intuisi Bapak


“Nah, selama ini untuk kebutuhan makan sehari-hari dari mana, pekerjaan apa?,” tanyanya. Sungguh pertanyaan ini seperti menohokku, menghujam tajam dan dalam ke relung kesadaranku. Aku nyaris tergagap menjawab pertanyaan Bapak yang meluncur saat kunjunganku beberapa hari lalu. Menjadi serius lantaran pertanyaan ini adalah yang pertama terlontar dari mulutnya setelah sekitar empat tahun tak bertemu.

Pertanyaan ini sebenar-benarnya menguncangkanku. Sesuatu yang mengingatkanku pada banyak hal tentang masa lalu; perjuangan hidup, pendidikan ala bapak, mimpi dan cita-cita serta banyak hal lain yang sulit kusimpulkan. “Sementara ini, penghasilanku dari nulis, Pak. Freelance nulis,” jawabku setelah beberapa saat terdiam.

“Tulisan apa, anakku?”

“Tulisan apapun, kadang sosial budaya, politik, kadang hukum, ya semacam artikel atau risalah ringkas. Kalau pas ada orderan ya bikin buku,” kataku lagi.

Bapak terdiam sesaat sambil melempar senyum simpul. “Selain itu, aktivitasmu apa?”

“Beberapa bulan terakhir ini, saya ikut mengawal proses hukum teman, Pak. Kebetulan teman saya itu sedang ada masalah hukum. Karena saya merasa cukup memahami permasalahannya, dan kesimpulannya teman saya relatif tak bersalah. Jadi saya bela semampu saya,”

“Adakah manfaatnya untuk umat, untuk publik?” tanya bapak lagi.

“Kebetulan, kasus ini juga terkait dengan nasib warga pemilik lahan yang belum terbayarkan hak-haknya. Jadi saya beserta pegiat sosial dan mahasiswa ikut memperjuangkan nasib warga,” terangku.

Kembali bapak terdiam. Dia menatapku tajam hingga mataku dan matanya tak lagi bertemu pandang. Keningnya sedikit berkerut. Aku menangkapnya sebagai keseriusan, memikirkan sesuatu. Mungkin tentangku, anak angkatnya yang masih berjibaku dengan sulitnya hidup setelah enam tahun mentas kuliah.
***

Terakhir bertemu bapak sekitar empat tahun lalu. Saat itu aku datang atas undangannya, mengisi materi tentang menulis. Empat tahun lalu itu aku masih berprofesi sebagai kuli tintas pada sebuah media lokal di Tegal. Aku datang dengan menghadiahinya sebuah buku, karya kecilku. Sebuah buku antologi tentang daerahku. Aku urun dua tulisan di dalamnya, merangkap editor buku tersebut. seingatku, bapak menerima buku itu sambil menepuk bahuku. Senyumnya pun mengembang. “Wah, anakku sudah jadi penuis,” ungkapnya saat itu.

Kini, ketika aku kembali bertemu, aku pun menghadiahinya kembali dengan sebuah buku. Masih buku tentang antologi penulis-penulis lokal di mana aku menjadi salah satu editornya. Bapakpun bukan tak bangga menerimanya. Tetapi kali ini dia seperti menyampaikan firasatnya bahwa nasib hidupku belum beranjak. Aku menganggapnya justru sebagai kemunduran. Karena tak seperti empat tahun lalu, kini aku tak lagi memiliki pekerjaan tetap.

***
“Anakku, bapak pun memiliki anak-anak angkat yang sepertimu. Mereka hidup dengan idealismenya. Waktunya sebagian besar dihabiskan untuk memikirkan nasib orang lain, memperjuangkannya. Ada juga yang jadi penulis dan bahkan editor senior. Bapak belajar banyak darinya. Tapi satu hal, keterlibatan dan keberpihakan mereka ternyata tak diimbangi dengan upanya memperjuangkan nasibnya sendiri,” tukas Bapak.

“Bapak tidak memintamu untuk menjual idealisme demi kesuksesan, bahkan bapak haramkan. Tetapi jangan hanya menjadi lilin, yang mengorbankan dirinya untuk menerangi banyak orang. Kenapa tidak menjadi lampu, yang menerangi dirinya lantas menerangi orang lain,” tegasnya.

Kata-kata bapak kian menghuam. Ia serupa busur panah, yang kian mengarah ke sasaran. Perasaanku tambah bergejolak tak karuan. Aku justru berpikir, kenapa pesan bapak itu seperti menjawab kegelisahanku beberapa waktu terakhir ini. Seolah dia tahu situasi yang tengah dihadapi anaknya, aku.

“Jujur, bapakpun pernah mengalami situasi sepertimu. Waktu bapak sebagian besar dihibahkan untuk perjuangan, memperjuangkan orang lain. Menangani banyak hal yang bernilai sosial. Tetapi akhirnya Bapak memutuskan untuk menentukan satu pilihan sebagai pegangan, baru setelahnya berbuat ini dan itu untuk kepentingan orang lain,”

“Pilih satu kegiatan, pekerjaan sebagai backbone, sebagai tulang punggung, tekuni itu, fokus. Pilihan inilah yang akhirnya menghidupi bapak dan juga orang lain. Sukseskan dirimu dengan menekuni satu hal itu, lantas muliakanlah dirimua dengan berbagi. Semakin sukses kita, maka semakin banyak kesempatan pula untuk berbagi,” pungkas bapak.

Setelah pertemuan itu, aku pun beranjak dari Bogor kembali ke tlatahku. Jasad boleh berpisah, tetapi pesan-pesan itu masih menyergapku. Aku serupa burung yang tanpa perlawanan menerima busur panah, menghujam ke jantung. Anehnya, tak satupun nasihat bapak yang menyimpang dari situasi batinku, hingga tak satupun yang mampu kutolak.  

Agh, bapakku masih seperti yang dulu. Selalu saja tahu persoalan yang dihadapi anak-anaknya. Tujuh tahun aku dididiknya, dipersiapkan menjadi orang sukses. Dan sepanjang itu pula rupanya bakap memahami kecenderungan anak-anaknya. Bahkan kini, setelah aku tak lagi bersama, setelah sekian tahun tak bertemu, dia masih mampu menangkap kegelisanku, kecemasanku, dan tentu saja nasibku. Mungkinkah ini semacam intuisi seorang bapak terhadap anaknya, simpul antar hati yang terpisah? Aku tak benar-benar tahu jawabnya.***


Jumat, 17 Februari 2012

Prasangka Parmin


OMONGAN politisi adalah gombal. Perilaku yang ditampilkannya adalah palsu. Semua fatamorgana, karena muaranya selalu saja kepentingan dan kepentingan. Untuk diakui, untuk dikenal, untuk dianggap peduli, untuk dianggap berjiwa besar, negarawan dan sekian banyak yang tersembunyi dari mereka.

Ceritanya sederhana. Politik adalah tanpa definisi, tak hitam dan juga tak putih, samar, absurd atau kerap disebut daerah abu-abu. Kawan, lawan, kawan yang tiba-tiba menjadi lawan atau lawan yang diam-diam menjadi kawan. Sebab tak ada konsistensi, istiqomah, taat pakem, fatsun dan garis linier. Semua mengalir, fleksibel, lentur, adaptatif, bunglon. "Loh, kemarin kan Pak Bupati baru turun, bagi-bagi bantuan sembako. Nyatanya, rakyat bergembira menyambutnya, bersorak, beryel-yel. Hidup Bupati! Hidup Bupati! Itu kan baik, peduli sama kita yang baru kena musibah, sedang susah. Dia berbuat, dari pada cuma ngomong kaya Bapak," ungkap Ngatiyem sambil menyuguhkan segelas kopi dan sepiring singkong goreng yang masih panas ke suaminya, di meja kayu kecil.

Kontan Ngatiyem nggak terima dengan omongan suaminya, Parmin, yang menurutnya terlalu berprasangka jelek, suudzon sama Bupati yang baru saja memberinya sekantong beras lengkap dengan minyak goreng, gula pasir dan mie instan serta selembar amplop berisi uang 20 ribuan. Nyatiyem pun masih ingat betul warna amplop putih ukuran kecil. Di pojok kanan amplop tertulis Partai Kangkung, berwarna hijau tua, dengan lambang seikat kangkung.

Bagi Ngatiyem, Parmin terlalu sok tahu. "Bapak ini kebanyakan nonton TV, jadi omongannya nglantur ke mana. Namanya dikasih ya diterima saja, dan mestinya terima kasih. Dah untung mau dikasih. Coba kalau kemarin pas pembagian di Balai Desa Bapak ngomong kaya gitu, boro-boro dikasih jatah, malah ditangkap sama pak polisi," lanjutnya menyalahkan.

Parmin yang baru saja mengangkat gelas, tiba-tiba kembali meletakkan gelasnya kembali di atas pising tatakannya dengan agak keras, seolah menjawab omelan sang istri. ‘PRANG’. Dia nampaknya terpancing dengan omongan pedas istrinya. Dia tak habis pikir, kenapa istrinya sedemikian bergairah membela Bupati Tegal, Soekoco. “Suaminya sendiri disalahin, malah mbela Bupati, orang yang sama sekali tak dikenalnya. Boro-boro bergaris nasab sama, tetangga pun bukan. Jangankan sodara, kenal aja enggak,” gerutu Parmin dalam hatinya. “Loh kamu kok semangat banget. Ini politik, bukan murni berbuat kebajikan. Mana ada politisi yang bersedekah dengan tulus, ikhlas, tanpa pamrih, tanpa embel-embel, nothing to loose. Lihat saja amplopnya, jelas sekali tertulis Partai Kangkung. Kamu itu Cuma dibodohi sama orang pinter,” sergahnya menyetop sunyi yang sejenak ada.

“Bapak ini, bisanya cuma nuduh, nggak ada bukti. Coba buktikan kalau Bupati itu pamrih, ada maksud dari memberi warga sembako. Ikhlas itu urusan hati, jiwa, mana mungkin orang lain tahu. Yang paham Cuma Gusti Alloh!,” timpal Ngatiyem yang tak terima dengan pendirian suaminya yang menurutnya sok pintar, sok tahu daleman hati orang. “Makanya, bapak jangan ngremehin ngaji, jadi pikirannya nggak kotor sama orang. Apa jangan-jangan bapak sudah nggak seneng duluan sama pak Bupatinya. Makanya apapun yang dilakukan beliau selalu dicurigai. Pikirannya Cuma negatif tok,” sambungnya.

Huh! Tentu saja Parmin bertambah geram. Apa hubungannya dengan ngaji. Dia kan cuma sedang menganalisa perilaku Bupati yang sok baik. Apa Ngatiyem tahu kalau Bupatinya itu seneng ngaji apa nggak. Kan sama saja. Lalu ada apa dengan Ngatiyem?

Urat di dahi Parmin mengerat kencang, sehingga terlihat jelas garis-garisnya yang kehijau-hijauan. Ia menelan ludah dan menahannya di kerongkongan, terasa seret. Ia teguk lagi kopinya yang mulai hangat. Tangan kanannya tampak merogoh saku celana sebelah kanan. Seketika dia mengeluarkan sebungkus rokok kretek dengan korek gas yang disimpan di dalam bungkus rokoknya yang tinggal lima batang. Parmin telah mengepulkan asap rokoknya ketika tiba-tiba dengan nada tinggi menggertak istrinya. “Jadi, kamu lebih mbela Bupatimu yang nggak kamu kenal asal-usulnya itu, daripada suamimu yang telah menikahimu lebih dari 10 tahun ini. Yang telah memberimu dua anak laki-laki. Aku kan juga bisa menduga kalau jangan-jangan, kamu juga mulai suka sama Bupatimu yang lebih ganteng itu. Wong dikasih tahu kok malah ngeyel. Terserah kamu aja lah. Tapi kalau nanti Kabupaten Tegal ini ambruk, baru tahu rasa kamu,” tandasnya sambil membuang mata.

“Loh, Kang! Istighfar! Istighfar kang! Pikiranmu kok sampai sejauh itu. Berarti kakang itu nuduh aku perempuan nggak bener! Kang..kang, mbok ya menghargai sedikit perasaanku. Teganya kamu nuduh aku kaya gitu,” timpal Ngatiyem yang suaranya mulai parau seperti mau nangis. Perempuan itu mulai kehabisan akal untuk berpikir, kehabisan kata-kata untuk bicara. Dan yang tersisa adalah hanya air mata yang mulai menetes.

Ngatiyem masuk kamar sambil menahan isaknya. Nafasnya kasar bercampur dengan isi hidungnya yang mulai seret seperti orang pilek, ingusnya naik turun.

Parmin bingung. Lelaki bertubuh jangkung ini tak menyangka istrinya akan seperti ini. “Aku tadi ngomong apa ya, kok Ngatiyem sampai nangis. Apakah perkataanku tadi telah menyakitinya? Oh dasar perempuan, kalau kalah berdebat, senjatanya pamungkasnya ya nangis jadi itu. Tapi, aku jahat juga ya,” Parmin berpikir tentang apa yang baru saja terjadi. Perdebatan atau pertengkaran dia tak tahu. Yang dia pahami, sekarang istrinya masuk kamar dan mengunci pintunya sekencang mungkin.
Dari luar hanya terdengar isak tangisnya yang tersedu-sedu. Kadang seperti anak bungsunya Ratih yang masih balita. Ketika minta dibelikan sesuatu pasti merengek seperti simboknya itu sekarang. “Politik memang memecah belah orang. Kenapa juga harus diributkan ya. Wong nggak ada urusannya dengan kebutuhan perut. Wualah. Maafin suamimu ini, Ngatiyem,”ungkap Parmin dalam hatinya sambil memegangi kepalanya dengan tangan kanannya.***  

Kamis, 16 Februari 2012

EKSPANSI SOSIOLOGI ATAS SASTRA


oleh Akhmad Saefudin*

Sosiologi sastra : Sebuah tinjauan Historis
Dalam perspektif keilmuan, sosiologi sastra adalah sebuah bentuk studi interdisipliner; lintas disiplin yang memuat dua wilayah keilmuan yang berbeda : sosiologi di satu sisi dan sastra pada spektrum keilmuan yang lain. Logika yang sama barangkali akan dijumpai dalam disiplin sosiologi hukum, sosiologi ekonomi, sosiologi politik dan yang lainnya.  Semua yang tersebut di atas ini, mengandaikan kompetensi keilmuan sosiologi untuk menjadikan ilmu-ilmu lainnya itu (politik, hukum, ekonomi atau bahkan sastra) sebagai wilayah kajiannya.
Dalam konstelasi dunia keilmuan sendiri, sosiologi sastra –sebagai disiplin ilmu- terbilang baru.  Kelahiran sosiologi sastra adalah jauh di bawah kemunculan disiplin sosiologi, apalagi sastra.  Sosiologi sendiri, setidaknya resmi mendeklarasikan dirinya sebagai disiplin ilmu sejak pertama kalinya Auguste Comte (baca : bapak sosiologi) memperkenalkan istilah sosiologi sebagai ilmu positif (+ 1830).  Bahkan, jauh sebelum Comte memperkenalkan sosiologi sebagai disiplin ilmu, dunia arab telah melahirkan seorang tokoh besar, yang justru menggunakan pendekatan sosiologis untuk menganalisis proses perubahan sosial.  Ilmuwan itu tak lain adalah Ibnu Khaldun. Sejak itu, secara resmi sosiologi berdiri sebagai ilmu yang obyektif.  Swingewood (dalam Faruk, 2003) mendefinisikan sosiologi sebagai studi yang ilmiah dan obyektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi mengenai lembaga dan proses-proses sosial.
Sementara itu, sastra sendiri sebagai disiplin ilmu seringkali diposisikan dalam logika yang berbeda dengan sosiologi atau ilmu-ilmu obyektif lainnya.  Karena asumsi orang tentang sastra selalu mengarah pada wilayah subyektif manusia, atau kemampuan imajiner manusia untuk memotret realitasnya.  Dalam hitungan umur, disiplin sastra jauh melampaui sosiologi.  Filusuf Yunani macam Plato dan Aris Toteles bahkan secara teoritis telah banyak berbicara tentang sastra sekitar abad 4-5 masehi. Lebih lanjut, Plato misalkan memaknai sastra tidak lebih sebagai tiruan dari realitas atau dalam istilahnya disebut mimesis.  Maka paska Yunani, sastra pun berkembang dengan pesatnya sebagai bagian dari –minimal- budaya masyarakat.  Karya-karya sastra macam syair, puisi, novel dan lainnya berkeluaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan seni. 
Meskipun demikian, kemunculan sosiologi sastra –dibanding dengan kelahiran sosiologi atau sastra- sekali lagi terbilang sangat lambat.  Bahkan sampai sekitar akhir tahun 60-an, nama sosiologi sastra belum tercatat dalam Indeks International Encyclopedia of The Social Science.

Imajinasi Sosiologi : Bermain Sastra Melalui Sosiologi
Sipapun tahu, sastra sebagai disiplin ilmu, secara monodisipliner mampu melakukan kajian atau kritik atas dirinya sendiri.  Sastra secara internal menilai mampu untuk melakukan proses pemberdayaan atas dirinya sendiri.  Kecenderungan studi yang monodisipliner ini umumnya berakibat pada pemahaman yang dihasilkan sangatlah sempit, bersifat reduksionis dan tak mustahil cacat dalam membaca sebuah realitas yang utuh.  Lebih dari itu, sastra akhirnya berjibaku dengan dunianya sendiri tanpa mencoba melakukan atau membuka diri terhadap kemungkinan perspektif lain di luar dunianya.
Dalam konteks inilah, sosiologi sastra hadir sebagai alternatif atas kecenderungan studi sastra yang monodisipliner.  Sosiologi sastra mencoba menawarkan sebuah studi interdisipliner; lintas disiplin; yaitu bagaimana sastra dikaji secara sosiologis.  Sosiologi dalam hal ini, menjadi semacam pendeekatan metode; alat analisis; atau alat kritik terhadap karya-karya sastra.  Jadi, sosiologi sastra adalah bagaimana berimajinasi untuk mengkaji sastra secara sosiologis.
Melalui sosiologi sastra, kita dimungkinkan untuk melihat konteks eksternal yang bertautan dengan karya sastra atau bahkan mempengaruhi bagaimana bentuk dan isi sebuah karya sastra.  Konteks eksternal yang dimaksud bisa berupa setting sosialpengarang, ideologi, pola budaya, kepercayaan atau agama, dan bahkan negara.  Maka pada aras ini pula studi sastra dengan pendekatan interdisipliner justru menguntungkan sastra itu sendiri.  Seperti diungkapkan oleh Arif Rohman (dalam Akhmad Maulani, 2003), setidaknya ada 3 hal yang didapat dari studi sastra secara interdisipliner ini.  Pertama, perspektif interdisipliner sastra tidak akan mengasingkan sastra dari studi-studi kemanusiaan praktis.  Kedua, karya sastra akan sejajar dengan antropologi, sosiologi, sejarah, serta ilmu-ilmu sosial lainnya. Ketiga, orang akan dapat melihat persoalan serta realitas yang terjadi secara lebih utuh dan komperhensif.
Dalam pemahaman lain,sosiologi sastra justru ingin memposisikan sastra tidak hanya dalam wilayah imajinasi an sich, melainkan juga memahami bahwa konstruksi imajiner pun tak bisa lepas dari fakta-fakta sosio-kultural.  Adalah mustahil, bahwa konstruksi imajiner sebuah karya sastra, hadir dalam kehampaan ruang dan waktu; lepas dari konteks zaman di mana penulis menuangkan ide-ide dalam karyanya.  Jadi pemahamannya adalah dialektis antara yang imajinatif dengan yang real.


Sosiologi Sastra yang berwajah Ganda
Bagi kita yang sering dipusingkan dengan rumitnya kerangka teoritis sosiologi, barangkali tidak akan nyaman bergelut dengan sosiologi sastra yang juga berwujud tak jauh dengan sosiologi.  Karena setiap upaya untuk memahami sosiologi sastra, akan dihadapkan dengan beragamnya pendekatan sosiologis yang digunakan dalam studi sastra.  Hasilnya, siapa saja yang tidak siap dengan keruwetan teori-teori sosiologi, barangkali memilih untuk mengurungkan niatnya mempelajari sosiologi sastra.  Sebaliknya, bagi mereka yang terlalu sering bersetubuh dengan teori-teori sosiologi yang rumit ini, pasti akan biasa saja menghadapi sosiologi sastra; tidak gagap, tapi alih-alih menikmati kerumitan sosiologi sastra ini.
Beberapa ahli pun sebenarnya cukup beragam dalam menyikapi realitas sosiologi sastra ini. Swingewood menilai sosiologi sastra tidak cukup mapan untuk dikatakan sebagai disiplin ilmu, karena banyak analisis sosiologisnya yang dinilainya berkualitas buruk.  Sementara itu, Wolf bahkan menuduh sosiologi sastra sebagai tanpa bentuk; tidak terdefinisikan atau kumpulan yang belum utuh.  Dan satu lagi yang diungkapkan oleh Daiches bahwa sosiologi tidaklah cukup punya data untuk melakukan studi-studi kritik atas sastra.
Permasalahan dalam sosiologi sastra ini, akan lebih jelas ketika kita mencoba menelusuri bagaimana pendekatan-pendekatan sosiologis yang digunakan dalam studi kritik sastra.  Akan banyak pendekatan dalam sosiologi sastra yang sebenarnya semakin menampakkan wajah sosiologi satra yang tidak tunggal, tapi beragam dan bahkan terkesan saling terlibat dalam perbantahan.  Dalam wilayah ini, kita mengenal pemdekatan marxis yang memang sangat dominan dalam sastra, tapi kita juga mengenal pendekatan fungsionalisme struktural ala Parsons, kemudian ada pendekatan strukturalisme genetik nya Goldman, pendekatan fenomenologis, Hegemoni Gramsci, teori dialogisnya Bakhtin, sampai kepada aliran sosiologi sastra post-modernisme yang sempat menjadi tren.
Semua pendekatan tersebut jelas berasal dari kerangka teori sosiologis atau ilmu-ilmu sosial yang kemudian merambah juga dalam wilayah sastra.  Banyaknya pendekatan dalam sosiologi sastra ini, barangkali menjadi semacam kekayaan tersendiri bagi khasanah keilmuan sosiologi sastra.  Namun, realitas ini juga bisa dimaknai sebagai bentuk ketidakmampuan sosiologi sastra untuk memformulasikan sebuah kerangka teoritis yang utuh dan tak berserakan. 
Penilaiannya, yang pasti terserah kepada kita, tapi bukankah dunia keilmuan sosial selalu meniscayakan keberagaman konsep, perbantahan teoritis, seperti halnya persaingan wilayah antara sosiologi makro dan mikro, antara teori konflik dengan   fungsionalisme, dan sebagainya.

Sosiologi Sastra: Ekspansi Sosiologi atas Sastra ?
(Sebuah Penutup)
Menilik kembali penetrasi sosiologi dalam studi kritik sastra, barangkali bisa dimaknai sebagai ijtihad intelektual yang menawarkan metode interdisipliner.  Metode ini, barangkat dari asumsi bahwa studi sastra yang monodisipliner, cenderung mereduksi dan tak jarang membuat cara pandang atas realitas menjadi picik dan tidak komperhensif.  Maka pada intinya, sosiologi sastra menjadi bagian dari upaya untuk memahami sastra dan realitas dalam wujud yang lebih utuh.  Artinya satu sisi, sosiologi sastra menunjukkan sesuatu yang konstruktif.
Namun demikian, pemahaman orang atas sosiologi sastra tidaklah melulu positif.  Pandangan di atas barangkali terkesan sangat sepihak dan perspektifis.  Sebab, di sisi lain orang bisa saja memaknai sosiologi sastra secara apriori dan penuh prasangka.  Dalam konteks ini, sah-sah saja orang menuduh kemunculan sosiologi sastra sebagai bagian dari ambisi  sosiologi untuk mengobjektivikasi dan mensubordinasikan disiplin sastra sebagai sub dari wilayah kajiannya.  Karena seperti diungkapkan oleh Pierre Bourdieu, sosiologi sastra tidak lebih dari upaya skeptis sosiologi yang tidak punya relevansi sama sekali.

Dalam pemahaman ini, sosiologi sastra dengan demikian adalah bagian dari pemenuhan karakter sosiologi yang ekspansif.  Karena seperti halnya ilmu politik, hukum, ekonomi,industri dan yang lainnya, sastra adalah korban dari ekspansi sosiologi atas wilayah keilmuan lain.  Memelesetkan istilah C. Wright Mills, sosiologi sastra adalah ekses dari imajinasi sosiologi yang bermimpi untuk memimpin dunia keilmuan, terutama sosial.  Kalau pemahamannya seperti ini, maka benar apa yang pernah disindir oleh sastrawan Umar Kayam, bahwa sosiologi adalah tak lebih sebagai ‘tong sampah’, yang mampu dan berupaya menampung segala-apapun.