oleh Akhmad
Saefudin*
Sosiologi sastra :
Sebuah tinjauan Historis
Dalam
perspektif keilmuan, sosiologi sastra adalah sebuah bentuk studi interdisipliner;
lintas disiplin yang memuat dua wilayah keilmuan yang berbeda : sosiologi di
satu sisi dan sastra pada spektrum keilmuan yang lain. Logika yang sama
barangkali akan dijumpai dalam disiplin sosiologi hukum, sosiologi ekonomi,
sosiologi politik dan yang lainnya. Semua yang tersebut di atas ini,
mengandaikan kompetensi keilmuan sosiologi untuk menjadikan ilmu-ilmu lainnya
itu (politik, hukum, ekonomi atau bahkan sastra) sebagai wilayah kajiannya.
Dalam
konstelasi dunia keilmuan sendiri, sosiologi sastra –sebagai disiplin ilmu-
terbilang baru. Kelahiran sosiologi sastra adalah jauh di bawah
kemunculan disiplin sosiologi, apalagi sastra. Sosiologi sendiri,
setidaknya resmi mendeklarasikan dirinya sebagai disiplin ilmu sejak pertama
kalinya Auguste Comte (baca : bapak sosiologi) memperkenalkan istilah sosiologi
sebagai ilmu positif (+ 1830). Bahkan, jauh sebelum Comte
memperkenalkan sosiologi sebagai disiplin ilmu, dunia arab telah melahirkan
seorang tokoh besar, yang justru menggunakan pendekatan sosiologis untuk
menganalisis proses perubahan sosial. Ilmuwan itu tak lain adalah Ibnu
Khaldun. Sejak itu, secara resmi sosiologi berdiri sebagai ilmu yang
obyektif. Swingewood (dalam Faruk, 2003) mendefinisikan sosiologi sebagai
studi yang ilmiah dan obyektif mengenai manusia dalam masyarakat, studi
mengenai lembaga dan proses-proses sosial.
Sementara
itu, sastra sendiri sebagai disiplin ilmu seringkali diposisikan dalam logika
yang berbeda dengan sosiologi atau ilmu-ilmu obyektif lainnya. Karena asumsi
orang tentang sastra selalu mengarah pada wilayah subyektif manusia, atau
kemampuan imajiner manusia untuk memotret realitasnya. Dalam hitungan
umur, disiplin sastra jauh melampaui sosiologi. Filusuf Yunani macam
Plato dan Aris Toteles bahkan secara teoritis telah banyak berbicara tentang
sastra sekitar abad 4-5 masehi. Lebih lanjut, Plato misalkan memaknai sastra
tidak lebih sebagai tiruan dari realitas atau dalam istilahnya disebut
mimesis. Maka paska Yunani, sastra pun berkembang dengan pesatnya sebagai
bagian dari –minimal- budaya masyarakat. Karya-karya sastra macam syair,
puisi, novel dan lainnya berkeluaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
akan seni.
Meskipun
demikian, kemunculan sosiologi sastra –dibanding dengan kelahiran sosiologi atau
sastra- sekali lagi terbilang sangat lambat. Bahkan sampai sekitar akhir
tahun 60-an, nama sosiologi sastra belum tercatat dalam Indeks International
Encyclopedia of The Social Science.
Imajinasi Sosiologi :
Bermain Sastra Melalui Sosiologi
Sipapun
tahu, sastra sebagai disiplin ilmu, secara monodisipliner mampu melakukan
kajian atau kritik atas dirinya sendiri. Sastra secara internal menilai
mampu untuk melakukan proses pemberdayaan atas dirinya sendiri.
Kecenderungan studi yang monodisipliner ini umumnya berakibat pada pemahaman
yang dihasilkan sangatlah sempit, bersifat reduksionis dan tak mustahil cacat
dalam membaca sebuah realitas yang utuh. Lebih dari itu, sastra akhirnya
berjibaku dengan dunianya sendiri tanpa mencoba melakukan atau membuka diri
terhadap kemungkinan perspektif lain di luar dunianya.
Dalam
konteks inilah, sosiologi sastra hadir sebagai alternatif atas kecenderungan
studi sastra yang monodisipliner. Sosiologi sastra mencoba menawarkan
sebuah studi interdisipliner; lintas disiplin; yaitu bagaimana sastra dikaji
secara sosiologis. Sosiologi dalam hal ini, menjadi semacam pendeekatan
metode; alat analisis; atau alat kritik terhadap karya-karya sastra.
Jadi, sosiologi sastra adalah bagaimana berimajinasi untuk mengkaji sastra secara
sosiologis.
Melalui
sosiologi sastra, kita dimungkinkan untuk melihat konteks eksternal yang
bertautan dengan karya sastra atau bahkan mempengaruhi bagaimana bentuk dan isi
sebuah karya sastra. Konteks eksternal yang dimaksud bisa berupa setting
sosialpengarang, ideologi, pola budaya, kepercayaan atau agama, dan bahkan
negara. Maka pada aras ini pula studi sastra dengan pendekatan
interdisipliner justru menguntungkan sastra itu sendiri. Seperti
diungkapkan oleh Arif Rohman (dalam Akhmad Maulani, 2003), setidaknya ada 3 hal
yang didapat dari studi sastra secara interdisipliner ini. Pertama,
perspektif interdisipliner sastra tidak akan mengasingkan sastra dari
studi-studi kemanusiaan praktis. Kedua, karya sastra akan sejajar dengan
antropologi, sosiologi, sejarah, serta ilmu-ilmu sosial lainnya. Ketiga, orang
akan dapat melihat persoalan serta realitas yang terjadi secara lebih utuh dan
komperhensif.
Dalam
pemahaman lain,sosiologi sastra justru ingin memposisikan sastra tidak hanya
dalam wilayah imajinasi an sich, melainkan juga memahami bahwa
konstruksi imajiner pun tak bisa lepas dari fakta-fakta sosio-kultural.
Adalah mustahil, bahwa konstruksi imajiner sebuah karya sastra, hadir dalam
kehampaan ruang dan waktu; lepas dari konteks zaman di mana penulis menuangkan
ide-ide dalam karyanya. Jadi pemahamannya adalah dialektis antara yang
imajinatif dengan yang real.
Sosiologi Sastra yang
berwajah Ganda
Bagi
kita yang sering dipusingkan dengan rumitnya kerangka teoritis sosiologi,
barangkali tidak akan nyaman bergelut dengan sosiologi sastra yang juga
berwujud tak jauh dengan sosiologi. Karena setiap upaya untuk memahami
sosiologi sastra, akan dihadapkan dengan beragamnya pendekatan sosiologis yang
digunakan dalam studi sastra. Hasilnya, siapa saja yang tidak siap dengan
keruwetan teori-teori sosiologi, barangkali memilih untuk mengurungkan niatnya
mempelajari sosiologi sastra. Sebaliknya, bagi mereka yang terlalu sering
bersetubuh dengan teori-teori sosiologi yang rumit ini, pasti akan biasa saja menghadapi
sosiologi sastra; tidak gagap, tapi alih-alih menikmati kerumitan sosiologi
sastra ini.
Beberapa
ahli pun sebenarnya cukup beragam dalam menyikapi realitas sosiologi sastra
ini. Swingewood menilai sosiologi sastra tidak cukup mapan untuk dikatakan
sebagai disiplin ilmu, karena banyak analisis sosiologisnya yang dinilainya
berkualitas buruk. Sementara itu, Wolf bahkan menuduh sosiologi sastra
sebagai tanpa bentuk; tidak terdefinisikan atau kumpulan yang belum utuh.
Dan satu lagi yang diungkapkan oleh Daiches bahwa sosiologi tidaklah cukup
punya data untuk melakukan studi-studi kritik atas sastra.
Permasalahan
dalam sosiologi sastra ini, akan lebih jelas ketika kita mencoba menelusuri
bagaimana pendekatan-pendekatan sosiologis yang digunakan dalam studi kritik
sastra. Akan banyak pendekatan dalam sosiologi sastra yang sebenarnya
semakin menampakkan wajah sosiologi satra yang tidak tunggal, tapi beragam dan
bahkan terkesan saling terlibat dalam perbantahan. Dalam wilayah ini,
kita mengenal pemdekatan marxis yang memang sangat dominan dalam sastra, tapi
kita juga mengenal pendekatan fungsionalisme struktural ala Parsons, kemudian
ada pendekatan strukturalisme genetik nya Goldman, pendekatan fenomenologis,
Hegemoni Gramsci, teori dialogisnya Bakhtin, sampai kepada aliran sosiologi
sastra post-modernisme yang sempat menjadi tren.
Semua
pendekatan tersebut jelas berasal dari kerangka teori sosiologis atau ilmu-ilmu
sosial yang kemudian merambah juga dalam wilayah sastra. Banyaknya
pendekatan dalam sosiologi sastra ini, barangkali menjadi semacam kekayaan
tersendiri bagi khasanah keilmuan sosiologi sastra. Namun, realitas ini
juga bisa dimaknai sebagai bentuk ketidakmampuan sosiologi sastra untuk
memformulasikan sebuah kerangka teoritis yang utuh dan tak berserakan.
Penilaiannya,
yang pasti terserah kepada kita, tapi bukankah dunia keilmuan sosial selalu
meniscayakan keberagaman konsep, perbantahan teoritis, seperti halnya
persaingan wilayah antara sosiologi makro dan mikro, antara teori konflik
dengan fungsionalisme, dan sebagainya.
Sosiologi Sastra:
Ekspansi Sosiologi atas Sastra ?
(Sebuah Penutup)
Menilik
kembali penetrasi sosiologi dalam studi kritik sastra, barangkali bisa dimaknai
sebagai ijtihad intelektual yang menawarkan metode
interdisipliner. Metode ini, barangkat dari asumsi bahwa studi sastra
yang monodisipliner, cenderung mereduksi dan tak jarang membuat cara pandang
atas realitas menjadi picik dan tidak komperhensif. Maka pada intinya, sosiologi
sastra menjadi bagian dari upaya untuk memahami sastra dan realitas dalam wujud
yang lebih utuh. Artinya satu sisi, sosiologi sastra menunjukkan sesuatu
yang konstruktif.
Namun
demikian, pemahaman orang atas sosiologi sastra tidaklah melulu positif.
Pandangan di atas barangkali terkesan sangat sepihak dan perspektifis.
Sebab, di sisi lain orang bisa saja memaknai sosiologi sastra secara apriori
dan penuh prasangka. Dalam konteks ini, sah-sah saja orang menuduh
kemunculan sosiologi sastra sebagai bagian dari ambisi sosiologi untuk
mengobjektivikasi dan mensubordinasikan disiplin sastra sebagai sub dari
wilayah kajiannya. Karena seperti diungkapkan oleh Pierre Bourdieu,
sosiologi sastra tidak lebih dari upaya skeptis sosiologi yang tidak punya relevansi
sama sekali.
Dalam
pemahaman ini, sosiologi sastra dengan demikian adalah bagian dari pemenuhan
karakter sosiologi yang ekspansif. Karena seperti halnya ilmu politik,
hukum, ekonomi,industri dan yang lainnya, sastra adalah korban dari ekspansi
sosiologi atas wilayah keilmuan lain. Memelesetkan istilah C. Wright Mills,
sosiologi sastra adalah ekses dari imajinasi sosiologi yang bermimpi untuk
memimpin dunia keilmuan, terutama sosial. Kalau pemahamannya seperti ini,
maka benar apa yang pernah disindir oleh sastrawan Umar Kayam, bahwa sosiologi
adalah tak lebih sebagai ‘tong sampah’, yang mampu dan berupaya menampung segala-apapun.